Senin, 24 Januari 2011

Antara Hidup dan Matinya TPA Nurusholah



Hidup segan mati pun tak mau, mungkin inilah gambaran nyata dari perjalanan Taman Pendidikan Al Qur’an di masjid kita saat ini. TPA/TPQ Nurusholah yang merupakan benteng pengkaderan generasi Islam masa depan (yang telah teruji sekian tahun dalam memberikan pengajaran Al Quran), perlahan namun pasti telah memasuki masa kepunahan, kalau tidak dikatakan punah, paling tidak keberadaannya pun antara ada dan tiada.

Apabila kita menyaksikan perjalanan TPA/TPQ Nurusholah saat ini mungkin kita hanya bisa mengatakan prihatin serta sedih dan meratapi nasib, bagaimana tidak? Dari jumlah pengajar yang hadir dalam pemberian materi kemudian kualitas pengajarnya yang hanya bermodalkan keberanian serta keikhlasan, tidak diberikan insentif yang pantas paling tidak untuk menutupi malu (sebagai bentuk penghormatan pada para pengajar Al Quran) dikritisi habis-habisan oleh orang orang yang kerjanya hanya mengkritisi, manajemen TPA/TPQ amburadul, jumlah santri/wati yang cukup banyak dari lingkungan Rukun Warga 014 , sedangkan pengajarnya hanya segelitir orang saja, miskin dana (sebab pengurus masjid sangat pelit mengelurkan dana untuk TPA/TPQ Nurusholah jangankan memberikan dananya, memberikan respon serta harapan-pun tidak. Walhasil, tidak ada yang bisa membuat kita bangga dari perjalanan TPA/TPQ Nurusholah saat ini. Bagaimana kita akan bangga, kalau hampir seluruh perangkat pembelajaran di TPA/TPQ masih compang-camping alias amburadul ? Inilah kenyataan TPA/TPQ Nurusholah di masjid kita hari ini, kalau pun ada yang mengatakan TPA/TPQ Nurusholah yang masih bisa berjalan, berjalannya pun antara hidup dan mati, atau tanpa tujuan sedangkan TPA/TPQ yang mati dan tinggal nama-pun, tak terhitung jumlahnya.

Bagaimana harapan TPA/TPQ Nurusholah sebagai harapan generasi Islam di masa depan…?–@rch

1 komentar:

  1. saya turut prihatin pak.
    saya hanya bisa berdoa semoga segala usaha Kita untuk Agama di lihat Allah dan dijaganya dari kepunahan

    BalasHapus