Jumat, 20 Februari 2015
PEMASANGAN PLANG YAYASAN SAMUDERA NURUSSHOLAH
Kamis, 04 Desember 2014
DONOR DARAH-26 OKTOBER 2014
Nurussholah------ Donor darah salah satu kegiatan sosial dari Remaja Islam Nurussholah yang bekerja sama dengan Yayasan Samudera Nurussholah bertujuan untuk mengajak seluruh pengurus beserta masyarakat sekitar RW 014 Kelurahan Tnajung Priok Jakarta Utara dalam meningkatkan rasa perduli kepada dan atara masyarakat yang membutuhkan pertolongan melalui acara Donor Darah yang dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 2014
Dalam acara atau kegiatan Donor Darah ini diikuti oleh kurang leboh 66 orang warga yang turut serta dalam penyumbangan Donor darah, semoga cara ini terus berjalan dengan baik untuk periode periode berikutnya @
SANTUNAN ANAK YATIM PIATU-LANSIA 20-JULI-2014
Nurussholah 20-Juli-2014-----Kegiatan Santunan Anak yatim dan Lasia tahun ini bertempat di Masjid Alhidayah RT 010 RW 014 Tanjung Priok Jakarta Utara,
Remaja Islam Nurussholah selaku penyelenggara seperti biasa bekerja sama dengan Yayasan Samudera Nurussholah yang beralamat di Jalan Samudera 2 Nomor 48 Kelurahan Tanjung Priok jakarta Utara, senantiasa berperan aktif dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersifat positif sosial di lingkungan Rukun Warga 014 khususnya dan wilayah lain pada umumnya.
Adapun kegiatan santunan ini diikuti oleh 500 orang peserta santunan dan semoga saja kegiatan tentunya ini dapat bermanfaat sebagai wujud tali silaturrahim kami Pengurus Remaja Islam Nurussholah dan Yayasan Samudera Nurussholah serta masyarakat sekitar dan tentu saja acara ini terus berlanjut demi kebaikan untuk kita semua amin @
Senin, 27 Februari 2012
SANTUNAN YATIM' FAKIR MISKIN' LANSIA & DHUAFA-2011
Setiap 10 Muharam atau yang dikenal Asyura, Rasulullah saw mengingatkan umatnya untuk berpuasa. ''Sesungguhnya hari Asyura adalah termasuk hari yang dimuliakan Allah. Barangsiapa yang suka berpuasa, maka berpuasalah'' (Muttafaq 'alaih). Anjuran Rasulullah saw tersebut sering dipandang sebagai wujud penghormatan kepada hari kemerdekaan kaum lemah/dhuafa, khususnya anak yatim. Karena itu, dalam tradisi umat Islam Indonesia, Asyura sering pula disebut sebagai hari raya anak yatim.
Kata yatim berasal dari bahasa Arab berupa fail pelaku, berbentuk tunggal dengan jamaknya yatama atau aitam yang berarti anak (laki/perempuan) yang belum dewasa dan orangtuanya telah meninggal dunia. Karena ketidakmampuan mereka secara fisik dan sosial inilah maka umat Islam sangat dianjurkan untuk menyantuni dan memberdayakan mereka agar kelak mampu dalam menghadapi kehidupan dunia ini.
Menyantuni dan memberdayakan mereka ini penting karena Alquran sendiri mengingatkan hal tersebut sebanyak 22 kali, antara lain, pada surah Al Baqarah (2) ayat 83, 177, 215, 220, An Nisaa' (4) ayat 2, 3, 6, 8, 10, 36, dan 127, Al An'aam (6) ayat 152. Program ini, bagi umat Islam secara keseluruhan adalah wajib, dan bukan terbatas pada hal-hal yang bersifat fisik, seperti harta, tetapi secara umum juga mencakup hal-hal yang bersifat psikis (QS 93:9 dan 107:2). Sedangkan anjuran membela dan menyantuni anak yatim tampak lewat berbagai hadis Rasulullah saw. ''Sering-seringlah mengusap kepala anak yatim,'' kata Nabi yang dijadikan yatim oleh Allah SWT. ''Hiasilah rumahmu dengan (memelihara) anak yatim.''
Dalam menyantuni anak yatim, terutama mereka yang memiliki harta haruslah dengan penuh tanggung jawab dan profesional. Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka) (QS An Nisaa': 10). Juga, Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa ... (QS Al An'aam: 152).
Kendati demikian Alquran juga membolehkan wali miskin memakan harta anak yatim dan tidak membolehkan wali kaya memakannya (QS An Nisaa: 6). Adapun dalam sebuah hadis, Rasulullah saw menjelaskan masalah ini. Pada suatu hari datang seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: ''Ya, Rasulullah, aku ini orang miskin, tapi aku memelihara anak yatim dan hartanya, bolehkah aku makan dari harta anak yatim itu?'' Rasulullah saw menjawab, ''Makanlah dari harta anak yatim sekadar kewajaran, jangan berlebih-lebihan, jangan memubazirkan, jangan hartamu dicampurkan dengan harta anak yatim itu,'' (HR Abu Dawud, an Nasa'i, Ahmad, dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar bin Khattab).
Berkaca dari pesan Alquran dan Sunah Rasul tersebut, dalam situasi krisis berkepanjang seperti ini, maka menyantuni anak yatim merupakan perbuatan sangat terpuji. Semua itu kita lakukan agar kita terhindar dari ancaman Alquran sebagai pendusta agama (QS al-Maun: 1-3). ahi
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/09/12/22/97205-menyantuni-anak-yatim
SANTUNAN ANAK YATIN'FAKIR MISKIN &KAUM DHUAFA- 17-09- 2009.
Setitik cahaya menjadi harapan kita bersama, ketika naluri kesadaran kita tergerak untuk melakukan amal nyata, dengan berbagi terhadap sesama maka kitapun dapat saksikan tidak saja para tokoh dan pemuka agama, para cendikiawan, profesional, mahasiswa, pejabat pemerintah bahkan para pengusahapun saat ini telah semakin menyadari hak orang lain dan ia merasa harus memberikannya kepada yang berhak menerimanya.
Dan kami Pengurus Yayasan Nurusholah Bidang Sosial bersama para donator terketuk hati untuk berpartisipasi untuk secara bersama-sama membantu anak anak Yatim dan duafa saudara kita yang membutuhkan. Semoga ini menjadi amal kebajikan dan merupakan ibadah yang akan memiliki nilai yang sangat mulia dihadapan Allah SWT….Amiin Ya Rabbal Allamin.
PEMBANGUNAN MASJID NURUSSHOLAH
Mudah-mudahan dengan keberadaan Yayasan Samudra Nurussholah ini setidaknya dapat mewarnai dan membentengi sebagian keterpurukan ini, dan kepada semua pihak mari kita bangun kerja sama dan kekuatan untuk membentengi ummat dan mengembalikan mereka kepada fitrah ajaran islam yang murni.//////Pengurs
Sabtu, 18 Februari 2012
MEMURNIKAN HARI RAYA KURBAN
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
(Q.S Ash-Shaffat [37]: 102)
Setiap tahun sekali kita telah memperingati Hari Raya Kurban, bahkan sudah beribu tahun umat Islam diberbagai belahan dunia telah merayakan Hari Raya Kurban. Tetapi, cobalah kita lihat sejenak, adakah dampak dari Hari Raya Kurban ini melekat di dalam hati setiap jiwa dari kita? Ataukah hanya sebatas rutinitas tahunan saja?
Sebagaimana ibadah haji, Hari Raya Kurban sangat erat kaitannya dengan dengan ajaran-ajaran yang dibawa oleh nabi Ibrahim a.s. Karena kesabaran dan keikhlasannya dalam menghadapi ujian hidup. Itulah juga mengapa beliau diangkat oleh Allah sebagai “kholilullah”, nabi kesayangan Allah. Umat dari tiga agama samawi yang bermukim di Yerusalem seperti; Islam, Nasrani dan Yahudi, kesemuanya mengakui keagungan akhlak beliau dan ajaran serta risalah yang dibawanya. Beliaulah bapak tiga agama monotheisme itu. Bahkan, konon di dalam kitab suci agama Hindu sosok nabi Ibrahim dikenal dengan sebutan nama Brahma. Begitu sentralnya peran nabi Ibrahim dalam mengemban misi ajaran agama tauhid yang begitu agung ini, sehingga kehadiran Rasulullah SAW di pentas bumi inipun tidak lain hanya untuk mengikuti, meneruskan serta memurnikan kembali ajaran dari nabi Ibrahim yang lurus (hanif).
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (Q.S Al-An’aam [6]: 161).
Beberapa pakar telah menduga bahwa “kurban” merupakan sebuah kebudayaan spiritual purba yang telah dikenal lama sejak zaman nenek moyang kita. Dari sederetan kisah sejarah para Nabi dan Rasul, kurban telah dikenal sejak masa peradaban putra Adam a.s. yang bernama Habil dan Qabil. Saat itu manusia telah mengenal kebudayaan bercocok tanam dan beternak. Dikisahkan dari berbagai kitab tafsir bahwa Habil adalah seorang peternak, sedangkan Qabil adalah seorang petani. Mereka membuat persembahan kurban dalam bentuk hasil pertanian dan peternakan. Habil mempersembahkan domba terbaik yang dimilikinya. Sedangkan Qabil mempersembahkan hasil pertanian yang kurang sempurna. Maka, Allah menerima persembahan dari Habil dan menolak persembahan dari Qabil. Dalam hal ini persembahan terbaik dan penuh keikhlasan itulah yang diterima oleh Allah.
Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.” (Q.S Al Maidah [5]: 27)
Dari sinilah dipetik sebuah pelajaran berharga bahwa sesuatu yang dikurbankan haruslah dalam bentuk yang sempurna, tidak cacat dan disertai keikhlasan. Anak cucu Adam sangat menyadari betapa pentingnya “kurban”, dan mulailah tradisi ini berkembang dari masa ke masa sehingga akhirnya bukan hanya binatang yang dipersembahkan, tetapi juga manusia. Dan juga bukan hanya kepada Allah persembahan itu dilakukan, tetapi juga kepada dewa-dewa yang dipertuhankan.
Sejarah menginformasikan bahwa penduduk suku Maya primitif di Meksiko yang menyembah dewa matahari mempersembahkan jantung dan darah manusia. Mereka berkeyakinan bahwa dewa tersebut terus-menerus bertempur melawan dewa gelap. Demi kesinambungan cahaya, bahkan demi hidup ini, sang dewa harus dibantu dengan darah dan jantung persembahan itu. Peradaban suku-suku Maya primitif di Meksiko tersebut telah difilmkan dengan sangat apik oleh Mel Gibson dengan judul Appocalypto.
Orang-orang Viking, bangsa pelaut yang mendiami Skandinavia, menyembah Odin sebagai dewa perang. Mereka mempersembahkan pemuka agama sebagai kurban untuk dipersembahkan. Kurban tersebut diikat, digantung pada sebuah pohon yang dianggap suci, kemudian ditikam dengan sebilah tombak, dengan tujuan menghapus dosa bagi mereka yang mempersembahkan kurban itu. Di Timur tengah, suku Kan’an yang bermukim di Irak, mengurbankan bayi untuk dewa Ba’al. Begitu juga di Mesir, penduduknya mempersembahkan gadis cantik untuk dewi sungai Nil
Nabi Ibrahim hidup pada abad ke 18 SM, suatu masa ketika terjadi berbagai penyimpangan-penyimpangan ajaran agama yang masih menjadikan manusia sebagai kurban bagi tuhan-tuhan mereka. Di masa inilah tradisi kurban kembali dimurnikan. Ketika Nabi Ibrahim a.s. diperintahkan oleh Allah melalui mimpinya untuk menyembelih putra tercintanya. Sebagai isyarat bahwa jiwa yang paling berharga di sisi seseorang bukanlah sesuatu yang berarti jika Tuhan meminta. Betapa berat ujian yang dihadapi Nabi Ibrahim ini. Keikhlasan disertai kesabaran akan pemenuhan permintaan Tuhan itulah jawabannya. Betapa keikhlasan disini bukanlah sesuatu yang hanya diteorikan semata. Karena tidak ada sesuatu yang bernilai tinggi jika dihadapkan dengan perintah Tuhan. Cinta kepada Allah harus selalu berada di atas segalanya. Inilah puncak ketauhidan sejati. Puncak keimanan hakiki. Sebagaimana apa yang telah dikatakan oleh Ismail yang ketika itu merupakan putra kandung pertama satu-satunya, perkataannya terhadap ayahnya ibrahim telah diabadikan di dalam Alqur’an,
“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Q.S Ash-Shaffat [37]: 102).
Tetapi, ini bukan berarti mempertahankan tradisi pengurbanan karena ketika pisau sudah mulai dihunjamkan dan digerakkan untuk menyembelih sang anak, Allah membatalkan dengan mengirim seekor domba sebgai penggantinya. Hal ini karena Tuhan sedemikian kasihnya kepada manusia sehingga kurban berupa manusia tidak diperkenankan. Melalui beliaulah kebiasaan mengorbankan manusia sebagai sesaji atau tumbal dibatalkan oleh Tuhan. Namun, Allah masih memperingatkan kepada kita akan tujuan yang dicapai dari kurban tersebut:
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. (Q.S Al Hajj [22]: 37).
Ketakwaan itu tercermin antara lain ketika sebagian daging kurban diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Tidak memandang ras, suku, maupun agama yang berbeda. Karena niatnya harus tulus ikhlas mengharap ridha Allah, bukan niat yang lain-lain. Demikian juga karena rahmat kasih sayang Allah terpancar kepada setiap makhluknya. Baik yang beriman ataupun tidak, semuanya merasakan kasih sayangNya. Amatilah matahari, ketika memancarkan cahayanya, ia tidak membedakan satu makhluk dengan makhluk lainnya. Tidak seorang pun merasa kekurangan cahaya atau kehangatan betapapun besarnya keramaian.
Kurban disyariatkan guna mengingatkan kepada manusia bahwa jalan menuju kebahagiaan membutuhkan pengorbanan. Namun, yang dikurbankan bukanlah manusia, tetapi binatang jantan yang sehat, tidak cacat dan sempurna umurnya. Bukan pula nilai-nilai kemanusiaan yang dikorbankan, melainkan sifat-sifat kebinatangan yang melekat di dalam jiwa manusia itulah yang harus dibunuh. Inilah sekelumit makna lahir dan batin dari Hari Raya Kurban
Akan tetapi, saat ini kemurnian ibadah kurban telah terkikis oleh masa yang berkepanjangan. Terlebih lagi di era modern dewasa ini peristiwa kurban hanya sebatas dikenal sebagai ritual untuk menggugurkan kewajiban bagi orang kaya. Hanya formalitas saja, tidak bermakna lagi. Sebagian dari kita masih ada yang memahami peristiwa kurban baru dari segi lahiriahnya saja. Meskipun sudah berkurban setiap tahunnya, tetap saja praktik-praktik korupsi masih saja dilakukan oleh segelintir pejabat.
Jika kita melihat dunia fauna, secara alami harimau tidak akan memusnahkan rusa di hutan yang ada di dalam ekosistemnya.. Dari sekian ratus ekor kawanan rusa, hanya satu atau dua ekor saja yang diburu untuk dimangsa, dan itupun yang paling lemah bukan yang kuat larinya. Harimau tidak mau menghancurkan ekosistemnya sendiri. Pun harimau tidaklah memangsa harimau lainnya. Bila ada dua ekor harimau jantan bertarung, sifatnya hanya mengalahkan untuk memperebutkan pengaruh atau teritori tertentu, dan tidak membunuh lawannya.
Sekarang, perhatikanlah perilaku manusia. Tak ada abad tanpa peperangan antar manusia. Padahal manusia mengklaim dirinya makhluk beradab. Dalam kenyataannya, banyak sekali manusia yang biadab. Manusia satu memusnahkan manusia lainnya untuk memperturutkan hawa nafsunya. Bahkan tidak lama ini terdengar kasus terorisme di Mumbai, India, yang telah menewaskan 160 korban jiwa manusia, 15 diantaranya adalah warga Negara asing. Inilah zaman dimana terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Inilah zaman dimana aksi terorisme mengatasnamakan Tuhan terjadi dimana-mana.
Selain itu, Inilah zaman penindasan seksual, pembodohan bagi kaum perempuan dimana hak-haknya telah dirampas hanya untuk kepentingan kaum kyai dalam berbisnis dengan mengatas namakan agama. Inilah kurban-kurban manusia di zaman modern. Bahkan inilah zaman dimana harga diri bangsa dikurbankan untuk kepentingan asing.
Sungguh, peringatan hari raya kurban ini tidak akan pernah sempurna dan menjadi sia-sia jika hanya dipahami dari sisi lahiriahnya. Pemaknaan kurban secara lahiriah hanya akan mempersempit semangat keberagamaan, karena kurban berupa binatang atau domba hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang mampu. Dan kebanyakan hanya dipahami sebatas formalitas saja. Tapi yang terpenting, kita semua harus mampu untuk membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri kita, seperti rakus, tamak, ambisi yang tak terkendali, menindas, menyerang, meneror, tidak memiliki akal budi, tidak mengenal hukum dan norma-norma adab yang berlaku.
Allah tidak membutuhkan kurban apapun dari manusia, karena di sisi Allah semua itu kecil. Segala perintahNya semata-mata hanya untuk hamba-hamba yang dikasihiNya. Agar manusia kembali kepada fitrahnya sebagai insan kamil.
Wallahu a’lam.
Hari Nugroho
Mahasiswa Arsitektur Angkatan 2006
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
(Q.S Ash-Shaffat [37]: 102)
Setiap tahun sekali kita telah memperingati Hari Raya Kurban, bahkan sudah beribu tahun umat Islam diberbagai belahan dunia telah merayakan Hari Raya Kurban. Tetapi, cobalah kita lihat sejenak, adakah dampak dari Hari Raya Kurban ini melekat di dalam hati setiap jiwa dari kita? Ataukah hanya sebatas rutinitas tahunan saja?
Sebagaimana ibadah haji, Hari Raya Kurban sangat erat kaitannya dengan dengan ajaran-ajaran yang dibawa oleh nabi Ibrahim a.s. Karena kesabaran dan keikhlasannya dalam menghadapi ujian hidup. Itulah juga mengapa beliau diangkat oleh Allah sebagai “kholilullah”, nabi kesayangan Allah. Umat dari tiga agama samawi yang bermukim di Yerusalem seperti; Islam, Nasrani dan Yahudi, kesemuanya mengakui keagungan akhlak beliau dan ajaran serta risalah yang dibawanya. Beliaulah bapak tiga agama monotheisme itu. Bahkan, konon di dalam kitab suci agama Hindu sosok nabi Ibrahim dikenal dengan sebutan nama Brahma. Begitu sentralnya peran nabi Ibrahim dalam mengemban misi ajaran agama tauhid yang begitu agung ini, sehingga kehadiran Rasulullah SAW di pentas bumi inipun tidak lain hanya untuk mengikuti, meneruskan serta memurnikan kembali ajaran dari nabi Ibrahim yang lurus (hanif).
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (Q.S Al-An’aam [6]: 161).
Beberapa pakar telah menduga bahwa “kurban” merupakan sebuah kebudayaan spiritual purba yang telah dikenal lama sejak zaman nenek moyang kita. Dari sederetan kisah sejarah para Nabi dan Rasul, kurban telah dikenal sejak masa peradaban putra Adam a.s. yang bernama Habil dan Qabil. Saat itu manusia telah mengenal kebudayaan bercocok tanam dan beternak. Dikisahkan dari berbagai kitab tafsir bahwa Habil adalah seorang peternak, sedangkan Qabil adalah seorang petani. Mereka membuat persembahan kurban dalam bentuk hasil pertanian dan peternakan. Habil mempersembahkan domba terbaik yang dimilikinya. Sedangkan Qabil mempersembahkan hasil pertanian yang kurang sempurna. Maka, Allah menerima persembahan dari Habil dan menolak persembahan dari Qabil. Dalam hal ini persembahan terbaik dan penuh keikhlasan itulah yang diterima oleh Allah.
Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.” (Q.S Al Maidah [5]: 27)
Dari sinilah dipetik sebuah pelajaran berharga bahwa sesuatu yang dikurbankan haruslah dalam bentuk yang sempurna, tidak cacat dan disertai keikhlasan. Anak cucu Adam sangat menyadari betapa pentingnya “kurban”, dan mulailah tradisi ini berkembang dari masa ke masa sehingga akhirnya bukan hanya binatang yang dipersembahkan, tetapi juga manusia. Dan juga bukan hanya kepada Allah persembahan itu dilakukan, tetapi juga kepada dewa-dewa yang dipertuhankan.
Sejarah menginformasikan bahwa penduduk suku Maya primitif di Meksiko yang menyembah dewa matahari mempersembahkan jantung dan darah manusia. Mereka berkeyakinan bahwa dewa tersebut terus-menerus bertempur melawan dewa gelap. Demi kesinambungan cahaya, bahkan demi hidup ini, sang dewa harus dibantu dengan darah dan jantung persembahan itu. Peradaban suku-suku Maya primitif di Meksiko tersebut telah difilmkan dengan sangat apik oleh Mel Gibson dengan judul Appocalypto.
Orang-orang Viking, bangsa pelaut yang mendiami Skandinavia, menyembah Odin sebagai dewa perang. Mereka mempersembahkan pemuka agama sebagai kurban untuk dipersembahkan. Kurban tersebut diikat, digantung pada sebuah pohon yang dianggap suci, kemudian ditikam dengan sebilah tombak, dengan tujuan menghapus dosa bagi mereka yang mempersembahkan kurban itu. Di Timur tengah, suku Kan’an yang bermukim di Irak, mengurbankan bayi untuk dewa Ba’al. Begitu juga di Mesir, penduduknya mempersembahkan gadis cantik untuk dewi sungai Nil
Nabi Ibrahim hidup pada abad ke 18 SM, suatu masa ketika terjadi berbagai penyimpangan-penyimpangan ajaran agama yang masih menjadikan manusia sebagai kurban bagi tuhan-tuhan mereka. Di masa inilah tradisi kurban kembali dimurnikan. Ketika Nabi Ibrahim a.s. diperintahkan oleh Allah melalui mimpinya untuk menyembelih putra tercintanya. Sebagai isyarat bahwa jiwa yang paling berharga di sisi seseorang bukanlah sesuatu yang berarti jika Tuhan meminta. Betapa berat ujian yang dihadapi Nabi Ibrahim ini. Keikhlasan disertai kesabaran akan pemenuhan permintaan Tuhan itulah jawabannya. Betapa keikhlasan disini bukanlah sesuatu yang hanya diteorikan semata. Karena tidak ada sesuatu yang bernilai tinggi jika dihadapkan dengan perintah Tuhan. Cinta kepada Allah harus selalu berada di atas segalanya. Inilah puncak ketauhidan sejati. Puncak keimanan hakiki. Sebagaimana apa yang telah dikatakan oleh Ismail yang ketika itu merupakan putra kandung pertama satu-satunya, perkataannya terhadap ayahnya ibrahim telah diabadikan di dalam Alqur’an,
“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Q.S Ash-Shaffat [37]: 102).
Tetapi, ini bukan berarti mempertahankan tradisi pengurbanan karena ketika pisau sudah mulai dihunjamkan dan digerakkan untuk menyembelih sang anak, Allah membatalkan dengan mengirim seekor domba sebgai penggantinya. Hal ini karena Tuhan sedemikian kasihnya kepada manusia sehingga kurban berupa manusia tidak diperkenankan. Melalui beliaulah kebiasaan mengorbankan manusia sebagai sesaji atau tumbal dibatalkan oleh Tuhan. Namun, Allah masih memperingatkan kepada kita akan tujuan yang dicapai dari kurban tersebut:
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. (Q.S Al Hajj [22]: 37).
Ketakwaan itu tercermin antara lain ketika sebagian daging kurban diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Tidak memandang ras, suku, maupun agama yang berbeda. Karena niatnya harus tulus ikhlas mengharap ridha Allah, bukan niat yang lain-lain. Demikian juga karena rahmat kasih sayang Allah terpancar kepada setiap makhluknya. Baik yang beriman ataupun tidak, semuanya merasakan kasih sayangNya. Amatilah matahari, ketika memancarkan cahayanya, ia tidak membedakan satu makhluk dengan makhluk lainnya. Tidak seorang pun merasa kekurangan cahaya atau kehangatan betapapun besarnya keramaian.
Kurban disyariatkan guna mengingatkan kepada manusia bahwa jalan menuju kebahagiaan membutuhkan pengorbanan. Namun, yang dikurbankan bukanlah manusia, tetapi binatang jantan yang sehat, tidak cacat dan sempurna umurnya. Bukan pula nilai-nilai kemanusiaan yang dikorbankan, melainkan sifat-sifat kebinatangan yang melekat di dalam jiwa manusia itulah yang harus dibunuh. Inilah sekelumit makna lahir dan batin dari Hari Raya Kurban
Akan tetapi, saat ini kemurnian ibadah kurban telah terkikis oleh masa yang berkepanjangan. Terlebih lagi di era modern dewasa ini peristiwa kurban hanya sebatas dikenal sebagai ritual untuk menggugurkan kewajiban bagi orang kaya. Hanya formalitas saja, tidak bermakna lagi. Sebagian dari kita masih ada yang memahami peristiwa kurban baru dari segi lahiriahnya saja. Meskipun sudah berkurban setiap tahunnya, tetap saja praktik-praktik korupsi masih saja dilakukan oleh segelintir pejabat.
Jika kita melihat dunia fauna, secara alami harimau tidak akan memusnahkan rusa di hutan yang ada di dalam ekosistemnya.. Dari sekian ratus ekor kawanan rusa, hanya satu atau dua ekor saja yang diburu untuk dimangsa, dan itupun yang paling lemah bukan yang kuat larinya. Harimau tidak mau menghancurkan ekosistemnya sendiri. Pun harimau tidaklah memangsa harimau lainnya. Bila ada dua ekor harimau jantan bertarung, sifatnya hanya mengalahkan untuk memperebutkan pengaruh atau teritori tertentu, dan tidak membunuh lawannya.
Sekarang, perhatikanlah perilaku manusia. Tak ada abad tanpa peperangan antar manusia. Padahal manusia mengklaim dirinya makhluk beradab. Dalam kenyataannya, banyak sekali manusia yang biadab. Manusia satu memusnahkan manusia lainnya untuk memperturutkan hawa nafsunya. Bahkan tidak lama ini terdengar kasus terorisme di Mumbai, India, yang telah menewaskan 160 korban jiwa manusia, 15 diantaranya adalah warga Negara asing. Inilah zaman dimana terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Inilah zaman dimana aksi terorisme mengatasnamakan Tuhan terjadi dimana-mana.
Selain itu, Inilah zaman penindasan seksual, pembodohan bagi kaum perempuan dimana hak-haknya telah dirampas hanya untuk kepentingan kaum kyai dalam berbisnis dengan mengatas namakan agama. Inilah kurban-kurban manusia di zaman modern. Bahkan inilah zaman dimana harga diri bangsa dikurbankan untuk kepentingan asing.
Sungguh, peringatan hari raya kurban ini tidak akan pernah sempurna dan menjadi sia-sia jika hanya dipahami dari sisi lahiriahnya. Pemaknaan kurban secara lahiriah hanya akan mempersempit semangat keberagamaan, karena kurban berupa binatang atau domba hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang mampu. Dan kebanyakan hanya dipahami sebatas formalitas saja. Tapi yang terpenting, kita semua harus mampu untuk membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri kita, seperti rakus, tamak, ambisi yang tak terkendali, menindas, menyerang, meneror, tidak memiliki akal budi, tidak mengenal hukum dan norma-norma adab yang berlaku.
Allah tidak membutuhkan kurban apapun dari manusia, karena di sisi Allah semua itu kecil. Segala perintahNya semata-mata hanya untuk hamba-hamba yang dikasihiNya. Agar manusia kembali kepada fitrahnya sebagai insan kamil.
Wallahu a’lam.
Hari Nugroho
Mahasiswa Arsitektur Angkatan 2006
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
Langganan:
Postingan (Atom)








